Minggu, 07 Maret 2010

ANALISA JURNAL GADAR

ANALISA JURNAL

INTERVENTION IN ACUTE CORONARY SYNDROMES: DO PATIENTS UNDERGO INTERVENTION ON THE BASIS OF THEIR RISK CHARACTERISTICS





Disusun Oleh :


NURAINUN YANI SIREGAR (090206057)
DEWI APRILIA LESTARI (090206077)
DODDY YUMAM PRASETYO (090206109)
ANANTUSIA FITRIANA (090206020)
KURNIAH (090206121)







PROGRAM PENDIDIKAN NERS-PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2010
ANALISA JURNAL

INTERVENTION IN ACUTE CORONARY SYNDROMES: DO PATIENTS UNDERGO INTERVENTION ON THE BASIS OF THEIR RISK CHARACTERISTICS


A. Latar Belakang Masalah/ Kesesuaian dengan Lingkup Keperawatan Kritis
Sindrom koroner akut (acute coronary syndrome/ACS) meliputi spektrum penyakit dari infark miokard akut (MI) sampai angina tak stabil (unstable angina). Penyebab utama penyakit ini adalah trombosis arteri koroner yang berakibat pada iskemi dan infark miokard. Derajat iskemik dan ukuran infark ditentukan oleh derajat dan lokasi trombosis.
Sejak 1960‐an, ketika terapi standard menjadi istirahat penuh (bed rest) dan defibrilasi (jika diperlukan), angka kematian infark miokard akut menurun terus. Keberhasilan terapi ACS bergantung pada pengenalan dini gejala dan transfer pasien segera ke unit/instalasi gawat darurat. Terapi awal untuk semua ACS, yang diberikan oleh enaga paramedik ataupun pada unit/instalasi gawat darurat sebenarnya sama. Manifestasi unstable angina dan MI akut seringkali berbeda. Umumnya, gejala MI akut bersifat parah dan mendadak, sedangkan infark miokard non‐ST elevasi (NSTEMI) atau unstable angina berkembang dalam 24‐72 jam atau lebih. Pada kedua kasus tersebut tujuan awal terapi adalah untuk menstabilkan kondisi mengurangi rasa nyeri dan kecemasan pasien.
B. Analisis Jurnal
1. Judul
Penulisan judul menurut Setiadi (2007) tidak boleh lebih dari 20 kata karena untuk meminimalkan kerancuan. Pada jurnal ini judul terdiri dari 16 kata sehingga sudah memenuhi dalam penulisan judul. Judul menggambarkan penelitian deskriptif. Namun peneliti tidak menyampaikan ruang lingkup tempat penelitian dengan jelas
2. Masalah relevan dengan keperawatan gawat darurat
Penelitian ini sudah sesuai dengan ranah keperawatan gawat darurat. Tujuan penelitian ini sudah tertulis yaitu bertujuan untuk menentukan apakah revascularisasi lebih mungkin dilakukan higher-risk dan apakah dipengaruhi oleh rumah sakit dengan revascularisasi agresif
3. Permasalahan dianalisa dengan tajam kekurangan dan kelebihan
Keseriusan permasalahan sudah dipaparkan dengan jelas namun kurang detail. Peneliti hanya memaparkan data kasus STEMI dan Non STEMI tanpa menjelaskan bagaimana patofisiologi STEMI dan Non STEMI hingga menyebabkan kematian. Peneliti tidak memaparkan kebijakan pemerintah terhadap keseriusan masalah yang dihadapi serta tangggapan masyarakat atau tuntutan masyarakat terhadap penatalaksanaan atau tindakan keperawatan pada pasien dengan STEMI dan Non STEMI tersebut.
4. Metodologi riset dianalisis kekurangan dan kelebihannya dengan menggunakan teori yang relevan.
Design peneliti ini dilakukan dengan rancangan studi observasional kasus/kohort dengan cara mengamati dari ACS berdasarkan tingkat resiko. Pengumpulan data dilakukan secara prospektif dengan mengamati semua pasien STEMI dan Non STEMI. Pada penelitian ini peneliti dijelaskan jumlah populasi dan sampel yang diambil. Peneliti hanya menyampaikan subjek penelitian dimana subyek penelitian adalah pasien dengan acut ischaemia yang terjadi pertama kali, EKG tetap ACS, kekurangan serum yang menyebabkan nekrosis jantung, dokumentasi penyakit arteri coroner .. Periode penelitian dilakukan selama 5 tahun yaitu dari bulan April 1999 sampai bulan September 2004. Peneliti tampak menggunakan sampel jenuh tetapi tidak memaparkan secara jelas alasan dalam pengambilan sampel tersebut. Adapun uji validitas juga tidak disebutkan oleh penulis. Begitupula metode pengolahan dan analisa data tidak disebutkan dengan jelas.
5. Pembahasan
Hal terpenting pada hasil penenelitian adalah karakteristik lokasi penelitian(Setiadi, 2007). Pada penelitian ini sudah dipaparkan mengenai karakteristik lokasi penelitian. Peneliti juga memaparkan karakteristik subyek penelitian yang terdiri dari 24.189 pasien ACS dari 106 RS yang mempunyai fasilitas angiographic selama 5 tahun terdiri dari 32,5 % pasien non ST elevasi, 53,7% ST elevasi, 7,2 % Bypass grafting dengan umur >18 tahun. Dalam penelitian ini karakteristik resiko terdiri dari usia, kelas perawatan, tekanan darah, ST segment deviasi, HR, serum creatinin. Dalam penelitian ini pembahasan tidak ditunjang dengan teori yang ada tetapi hanya memaparkan hasil yang ditemukan.
6. Rekomendasi
Penulis sudah memberikan saran, namun saran yang diberikan tidak spesifik dan juga kurang aplikatif.
7. Pustaka
Penulisan daftar pustaka telah sesuai dengan jumlah minimal pada penelitian yaitu 15 sumber (Setiadi, 2007). Peneliti menggunakan 17 referensi yang tahun penerbitannya semua kurang dari 10 tahun sehingga sudah sesuaindengan ketentuan. Penulisan daftar pustaka belum sesuai dengan kaidah penulisan, dimana penulis membubuhkan nomor di depan daftar pustaka yang ditulis.
C. Aplikasi/ Penerapan Masalah di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Menurut pengamatan selama praktik di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta khususnya Instalasi Gawat Darurat pasien dengan ACS sudah menggunakan terpi standart kegawatdaruratan tetapi belum dibedakan karakteristik resikonya. Penatalaksanaan lanjutan pasien dengan ACS diruang ICCU hanya dilakukan trombolisis belum sampai dengan revaskularisasi prosedur karena memang di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta belum terdapat fasilitas Angiographic. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa pelaksanaan revaskularisasi dini memberikan dampak yang lebih baik
D. Saran Bagi RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Kepada bidang Keperawatan hendaknya mengusulkan kebagian manajemen untuk menyediakan peralatan angiographic sebagai tindak lanjut penatalaksanaan penanganan pasien dengan ACS, disampning juga menyiapkan tenaga terlatih untuk pelaksanaan prosedur tersebut.

LP COMBUSTIO

Definisi
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang di sebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air, panas,bahan kimia, listrik dan radiasi.
B. Klasifikasi
Luka baker diklasifikasikan berdasarkan :
Kedalaman luka bakar
Luka bakar ketebalan parsial di bedakan menjadi luka bakar superfisial dan luka bakarketebalan partial dalam. Luka bakar ketebalan partial superfisial ( luka bakar derajat 1 ) merusak lapisan epidermis. Sedangkan cedera ketebalan partial dalam ( luka bakar derajat 2 ) mengenai lapisan epidermis dan dermis termasuk kelenjar keringat dan sebasea, saraf sensoris dan motorik, kapiler dan folikel rambut.
Luka bakar ketebalan penuh ( luka bakar derajat 3 ) mengenai lapisan lemak lapisan ini mengandung kelenjar keringat dan akar folikel rambut, dan semua lapisan epidermis mengalami kerusakan.
Keparahan luka bakar
Cedera luka bakar dapat berkisar dari lepuh kecil sampai luka bakar masif derajat 3. Cedera luka bakar di kategorikan ke dalam luka bakar minor, sedang dan mayor.
Cedera luka bakar minor adalah cedera ketebalan partial yang kurang dari 15 % LPTT ( luas permukaan tubuh total ) pada orang dewasa dan anak-anak 10% LPTT, atau cedera ketebalan penuh kurang dari 2% LPTT.
Cedera luka bakar sedang adalah cedera luka bakar sedang terkomplikasi adalah cedera ketebalan partial dengan 15-20% dari LPTT pada orang dewasa atau 10-20% LPTT pada anak-anak atau cedera dengan ketebalan penuh kurang dari 10% LPTT yang tidak berhubungan dengan komplikasi
Cedera luka bakar mayor adalah cedera ketebalan partial lebih dari 25% pada orang dewasa atau 20% LPTT pada anak-anak, cedera ketebalan penuh 10% LPTT atau lebih, luka bakar yang mengenai tangan,wajah,mata,kaki dan perineum. Cedera inhalasi, cedera listrik, luka bakar yang berkaitan dengan cedera lain ( cedera jaringan lunak, fraktur, dan trauma lain).
Lokasi luka bakar
Luka bakar pada wajah seringa menyebabkan abrasi kornea, pada telinga akan menyebabkan kondritis auricular, luka bakar pada tangan dan persendian membutukan terapi fisik dan okupasi yang lama. Luka bakar pada perineal menyebabkan mudah terserang infeksi karena autokontaminasi oleh urin dan feses. Lokasi luka bakar sirkumferensialis ektremitas berefek pada penebalan pembuluh darah, luka bakar pada sirkumfernsial toraks dapat menyebabkan inadekuat ekspansi dinding dada dan insufisiensi pulmonal.
Agen penyebab luka bakar
Agen yang menyebabkan terjadinya luka bakar adalah termal ( cedera terbakar, kontak dengan kobaran api, uap panas), listrik, kimia sinar matahari dan radiasi.
Ukuran luka bakar
Luas dan kedalaman luka bakar berhubungan denga intensitas dan durasi dari pemajanan terhadap agen penyebab.
Metode rule of nine untuk menentukan persentase luas permukaan tubuh yang mengalami cedera luka bakar, dasar dari perhitungan ini adalah dengan membagi tubuh kedalam bagian-bagian anatomi yang setiap bagiannya mencerminkan luas 9% dari LPT(luas permukan tubuh) atau kelipatan dari 9%.
Perhitungan pada setiap bagian tubuh :
o Kepala : 9%
o Ekstremitas atas kanan : 9%
o Ekstremitas bawah kiri : 9%
o Torso : 36%
o Perineum : 1%
o Ekstremitas bawah kanan : 18%
o Ekstremitas bawah kiri : 18%

o Total : 100%

C. Tanda dan Gejala
Ø Luka bakar derajat satu ( superfisial)
· Pada awalnya terasa nyeri dan kemudian gatal stimulasi reseptor sensoris
· Kesemutan
· Hiperestensi
· Kemerahan dan akan menjadi putih pada saat di tekan
· Sembuh dengan spontan tanpa meninggalkan jaringan parut
Ø Luka bakr derajat dua ( partial )
· Nyeri
· Berwarna merah pink
· Membentuk lepuh dan edema subkutan
· Hiperestesia
· Sensitif terhadap udara dingin
· Dasar luka berbintik-bintik merah
· Epidermis retak
· Permukaan luka basah
Ø Luka bakar derajat tiga ( Full)
· Luka terasa nyeri, karena semua reseptor sensoris telah mengalami kerusakan total
· Terjadi syok
· Hematuria
· Kemungkinan terjadi hemolisis ( destruksi sel darah merah )
· Luka bakar berwarna putih
· Kulit retak dengan bagian lemak yang tampak
· Ada edema
D. Patofisiologi
Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas tubuh. Kulit dengan luka bakar akan mengalami kerusakan pada epidermis, dermis maupun jaringan subkutan. Luka bakar menyebabkan naiknya permeabilitas pembuhuh darah sehingga air, natrium, klorida dan protein tubuh akan keluar dari dalam sel dan menyebkan terjadinya edema yang akan berlanjut ke keadaan hipovolemia dan hemokonsentrasi karena kehilangan volume cairan yang akan mempengaruhi nilai normal cural dan elektrolit tubuh.
Keadaan hipovolemik yang tidak segera di atasi akan berlanjut ke keadaan syok hipovolemik. Pada kardiovaskuler perpindahan cairan dari intravaskuler ke ekstravaskuler melalui kebocoran kapiler yang mengakibtkan kehilangan Na, air, dan protein plasma serta adema jaringan yang di ikuti dengan penurunan curah jantung, hemokonsentrasi sel darah merah, penurunan perfusi pada organ dan edema menyeluruh. Pada renal dengan menurunnya volume intravaskuler maka aliran plasma ke ginjal dan urine. Jika resusitasi cairan untuk kebutuhan vaskuler tidak adekuat maka akan mengakibatkan terjadinya gagal ginjal.
Pada renal dstruksi sel-sel darah merah pada lokasi cedera akan menghasilkan hemoglobin bebas salam urine. Hemoglobin dan mioglobulin yang menyumbat tubulus renal akan mengakibatkan nekrosis akut tubuler. Dari gastrointestinal akan terjadi penurunan aktivitas neurologik serta respon hipovolemik dan respon endokrin akibat adanya perlukaan luas.
Denganberkurangnya peristaltik dan bising usus akan menyebabkan ilius paralitik sebagai akibat dari adanya luka bakar. Sedangkan ulkus lambung terjadi sebagai akibat dari perdarahan lambung yang terjadi sekunder akibat fisiologik masif yang ditandai oleh darah okulta dan feses, regurtitas muntahan seperti bubuk kopi dari lambung, atau vomitus yang berdarah.
Dari imunologi respon dari kehilangan integritas kulit di perparah dengan pelepasan faktor-faktor inflamsi yang abnormal, perubahan kadar immunoglobulin serta komplemen serum, gangguan fungsi neutrofil dan penurunan jumlah limfosit, imunosupresan membuat resiko terjadinya sepsis.






E. Pathway

Thermal ( suhu)
Radiasi, zat kimia, listrik

Luka bakar Dx : kerusakan integritas kulit
b/d kehilangan barrier kulit

Kemungkinan
Cedera inhalasi kelenjar kapiler kehilangan barier kulit



Hipoksia Permeabilitas kapiler problem termoregulasi respon inflamasi


Takipneu perpindahan natrium,H2O kerusakan respon imun
Dan protein dr intrvaskuler
Dx : kerusakan pertukaran Ke ruang interstitial
Gas b.d takipneu
Dx : hipotermi b/d mengalami
termoregulasi ; sepsis
kehilangan barrier kulit

Dx : infeksi b/d sepsis;
Kehilangan barrier kulit
Syok Hipovolemik


Dehidrasi iskemik curah jantung

Dx : defisit Vol, cairan
b/d dehidrasi ; syok hipovelemik hipoksia Tekanan darah

perpusi jaringan takikardi

Dx : kerusakan integritas jaringan aliran darah keginjal
b/d perfusi jaringan
syok hipovelemik
dx : perfusi jaringan ginjal tidak efektif



F. Penatatalaksanan
Penatalaksanaan luka bakar dapat dibagi menjadi tiga fase :
Fase resusitasi (28 jam pertama )
Pasien memerlukan penanganan yang cepat dan tepat sesuai dengan kondisinya serta memerlukan terapi cairan yang sesuai dengan kebutuhan dan pemantauan ketat.
Ø Durasi : dari awitan cedera hingga selesainya resusitasi cairan
Ø Prioritas : pertolongan pertama, pencegahan syok, pencegahan gengguan pernapasan, deteksi dan penanganan cedera yang menyertai, penilaian luka dan perawatan.
Fase akut ( > 48 jam pertama luka bakar mudah sembuh )
Mulai dengan adanya diuresis dimana terjadi perpindahan cairan dari intertitial dan diteruskan melalui daerah luka bakar.
Ø Durasi : dari dimulainya diuresis hingga hampir selesainya proses penutupan luka
Ø Prioritas : perawatan dan oenutupan luka, pencegahan dan penanganan komplikasi termasuk infeksi, dukungan nutrisi.
Fase rehabilitasi ( luka sembuh sampai pengembalian fungsi tubuh )
Mengembalikan fungsi tubuh yang mengalami defisit atau kemunduran seperti kontraktur
Ø Durasi : dari penutupan luka yang besar hingga kembalinya kepada tingkat penyesuaian fisik dan psikososial yang optimal.
Ø Prioritas : pencegahan jaringan parut dan kontraktur, rehabilitasi fisik, okupasional dan vokasional, rekonstruksi fungsional dan kosmetik, konsling psikososial.
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium
a. Hitung darah lengkap
b. Analisa gas darah
c. CoHbg
d. Elektrolit serum
e. Natrium urin random
f. Alkalin fosfat
g. Glukosa serum
h. Albumin serum
i. BUN atau Kreatinin
j. Urine
Foto rontgen dada
Bronkoskopi serat optik
Loop aliran daran
Scan paru
EKG
Fotografi luka bakar

H. Komplikasi
Ø Glandula thyroid menjadi lebih aktif
Ø Pneumonia
Ø Ileus paralitik
Ø Ulkus lambung
Ø Hiperetrofi jaringan parut
Ø Kontraktur ( kekakuan )













BAB II
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
No
Diagnosa keperawatan
Tujuan
Intervensi
1.



























2.






























3.
Defisit volume cairan b/d syok hipovelemik


























Kerusakan intergritas kulit b/d kehilngan barrier kulit





























Resiko infeksi b/d kerusakan respon imun
Tujuan jangka pendek
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x 24 jam syok hipovelemik klien berkurang

Tujuan jangka panjang
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x 24 jam keseimbangan volume cairan klien dapat dipertahankan dengan kriteria hasil :
1. kesimbangan urine output lebih dari 1300 ml/hari ( paling sedikit 30 ml/jam )
2. vital sign dalam keadaan normal
3. turgor kulit baik
4. klien mampu untuk mencegah dan mengatasi kehilangan cairan :
· Klien mampu mengkonsumsi air putih sebanyak 2 liter/hari
5. hematokrit dalam batas normal.

Tujuan jangka pendek
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam luka menunjukkan regenerasi jaringan

Tujuan jangka panjang
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x24 jam telah tercapai penyembuhan pada area luka dengan kriteria hasil :
Area luka terbuka berwarna merah muda
Pigmentasi kulit
Elastisitas membaik
Tekstur kulit baik
Timbul eschar
Luka yang baru sembuh teraba lunak dan licin
Kulit secara umum tampak utuh dan bebas dari tanda-tanda infeksi






Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x 24 jam tidak terjadi infeksi
monitor cairan
1. tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan eliminasi
2. tentukan kemungkinan faktor resiko dari ketidakseimbangan cairan ( hipertermi, gagal ginjal, disfungsi hati dll)
3. monitor berat badan klien
4. monitor memberan mukosa dan turgor kulit serta rasa haus
5. catat intake dan output cairan
6. pertahankan pemberiaan infus dan atur cairan sesuai kebutuhan









integritas kulit membaik :
1. bersihkan luka, tubuh, dan rambut setiap hari
2. catat ukuran, kedalaman luka, perhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka
3. bersihkan jaringan nekrotik yang lepas ( termasuk pecahnya lepuh )
4. periksa luka tiap hari, perhatikan perubahan penampilan bau atau kuantitas drainase
5. oleskan preparat antibiotik topikal dan pasang balutan sesuai ketentuan medis
6. cegah penekanan, infeksi, dan mobilisasi pada autograff
7. lakukan latihan mobilisasi pada daerah yang tidak luka






kaji adanya fluktuasi suhu tubuh, letargi, apneu, malas minum, gelisah dak ikterus
ambil sampel darah
pantau ulang hasil pemeriksaan eritrosit, leukosit deferensiasi, immunglobulin.
lakukan prosedur secara steril
Lakukan pencegahan infeksi silang atau perpindahan mikro-organisme.















DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth, 2002. Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol.3 . Jakarta : EGC.
Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. FKUI : Media Aesculapus.
Moenadjat, Yefta. 2003. luka Bakar Pengetahuan Klinik Praktis. Jakarta : FKUI.

LAPORAN PENDAHULUAN STEMI

A. PENGERTIAN
Infark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang(Brunner & Sudarth, 2002).
Infark miocard akut adalah nekrosis miocard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu. (Suyono, 1999)
B. ETIOLOGI (Kasuari, 2002)
1. faktor penyebab :
a. Suplai oksigen ke miocard berkurang yang disebabkan oleh 3 faktor :
- Faktor pembuluh darah :
Ø Aterosklerosis.
Ø Spasme
Ø Arteritis
- Faktor sirkulasi :
Ø Hipotensi
Ø Stenosos aurta
Ø insufisiensi
- Faktor darah :
Ø Anemia
Ø Hipoksemia
Ø polisitemia
b. Curah jantung yang meningkat :
- Aktifitas berlebihan
- Emosi
- Makan terlalu banyak
- hypertiroidisme
c. Kebutuhan oksigen miocard meningkat pada :
- Kerusakan miocard
- Hypertropimiocard
- Hypertensi diastolic

2. Faktor predisposisi :
a. faktor resiko biologis yang tidak dapat diubah :
- usia lebih dari 40 tahun
- jenis kelamin : insiden pada pria tinggi, sedangkan pada wanita meningkat setelah menopause
- hereditas
- Ras : lebih tinggi insiden pada kulit hitam.
b. Faktor resiko yang dapat diubah :
- Mayor :
Ø hiperlipidemia
Ø hipertensi
Ø Merokok
Ø Diabetes
Ø Obesitas
Ø Diet tinggi lemak jenuh, kalori
- Minor:
Ø Inaktifitas fisik
Ø Pola kepribadian tipe A (emosional, agresif, ambisius, kompetitif).
Ø Stress psikologis berlebihan.

C. TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala infark miokard ( TRIAS ) adalah :
1. Nyeri :
a. Nyeri dada yang terjadi secara mendadak dan terus-menerus tidak mereda, biasanya diatas region sternal bawah dan abdomen bagian atas, ini merupakan gejala utama.
b. Keparahan nyeri dapat meningkat secaara menetap sampai nyeri tidak tertahankan lagi.
c. Nyeri tersebut sangat sakit, seperti tertusuk-tusuk yang dapat menjalar ke bahu dan terus ke bawah menuju lengan (biasanya lengan kiri).
d. Nyeri mulai secara spontan (tidak terjadi setelah kegiatan atau gangguan emosional), menetap selama beberapa jam atau hari, dan tidak hilang dengan bantuan istirahat atau nitrogliserin (NTG).
e. Nyeri dapat menjalar ke arah rahang dan leher.
f. Nyeri sering disertai dengan sesak nafas, pucat, dingin, diaforesis berat, pening atau kepala terasa melayang dan mual muntah.
g. Pasien dengan diabetes melitus tidak akan mengalami nyeri yang hebat karena neuropati yang menyertai diabetes dapat mengganggu neuroreseptor (mengumpulkan pengalaman nyeri).

2. Laborat
Pemeriksaan Enzim jantung :
a. CPK-MB/CPK
Isoenzim yang ditemukan pada otot jantung meningkat antara 4-6 jam, memuncak dalam 12-24 jam, kembali normal dalam 36-48 jam.
b. LDH/HBDH
Meningkat dalam 12-24 jam dam memakan waktu lama untuk kembali normal
c. AST/SGOT
Meningkat ( kurang nyata/khusus ) terjadi dalam 6-12 jam, memuncak dalam 24 jam, kembali normal dalam 3 atau 4 hari

3. EKG
Perubahan EKG yang terjadi pada fase awal adanya gelombang T tinggi dan simetris. Setelah ini terdapat elevasi segmen ST.Perubahan yang terjadi kemudian ialah adanya gelombang Q/QS yang menandakan adanya nekrosis.
Skor nyeri menurut White :
0 = tidak mengalami nyeri
1 = nyeri pada satu sisi tanpa menggangu aktifitas
2 = nyeri lebih pada satu tempat dan mengakibatkan terganggunya aktifitas, mislnya kesulitan bangun dari tempat tidur, sulit menekuk kepala dan lainnya
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. EKG
Untuk mengetahui fungsi jantung : T. Inverted, ST depresi, Q. patologis
2. Enzim Jantung.
CPKMB, LDH, AST
3. Elektrolit.
Ketidakseimbangan dapat mempengaruhi konduksi dan kontraktilitas, missal hipokalemi, hiperkalemi
4. Sel darah putih
Leukosit ( 10.000 – 20.000 ) biasanya tampak pada hari ke-2 setelah IMA berhubungan dengan proses inflamasi
5. Kecepatan sedimentasi
Meningkat pada ke-2 dan ke-3 setelah AMI , menunjukkan inflamasi.
6. Kimia
Mungkin normal, tergantung abnormalitas fungsi atau perfusi organ akut atau kronis
7. GDA
Dapat menunjukkan hypoksia atau proses penyakit paru akut atau kronis.
8. Kolesterol atau Trigliserida serum
Meningkat, menunjukkan arteriosclerosis sebagai penyebab AMI.
9. Foto dada
Mungkin normal atau menunjukkan pembesaran jantung diduga GJK atau aneurisma ventrikuler.
10. Ekokardiogram
Dilakukan untuk menentukan dimensi serambi, gerakan katup atau dinding ventrikuler dan konfigurasi atau fungsi katup.
11. Pemeriksaan pencitraan nuklir
Talium : mengevaluasi aliran darah miocardia dan status sel miocardia missal lokasi atau luasnya IMA
Technetium : terkumpul dalam sel iskemi di sekitar area nekrotik


12. Pencitraan darah jantung (MUGA)
Mengevaluasi penampilan ventrikel khusus dan umum, gerakan dinding regional dan fraksi ejeksi (aliran darah)
13. Angiografi koroner
Menggambarkan penyempitan atau sumbatan arteri koroner. Biasanya dilakukan sehubungan dengan pengukuran tekanan serambi dan mengkaji fungsi ventrikel kiri (fraksi ejeksi) Prosedur tidak selalu dilakukan pad fase AMI kecuali mendekati bedah jantung angioplasty atau emergensi.
14. Digital subtraksion angiografi (PSA)
Teknik yang digunakan untuk menggambarkan
15. Nuklear Magnetic Resonance (NMR)
Memungkinkan visualisasi aliran darah, serambi jantung atau katup ventrikel, lesivaskuler, pembentukan plak, area nekrosis atau infark dan bekuan darah.
16. Tes stress olah raga
Menentukan respon kardiovaskuler terhadap aktifitas atau sering dilakukan sehubungan dengan pencitraan talium pada fase penyembuhan.



E. PENATALAKSANAAN
1. Rawat ICCU, puasa 8 jam
2. Tirah baring, posisi semi fowler.
3. Monitor EKG
4. Infus D5% 10 – 12 tetes/ menit
5. Oksigen 2 – 4 lt/menit
6. Analgesik : morphin 5 mg atau petidin 25 – 50 mg
7. Obat sedatif : diazepam 2 – 5 mg
8. Bowel care : laksadin
9. Antikoagulan : heparin tiap 4 – 6 jam /infus
10. Diet rendah kalori dan mudah dicerna
11. Psikoterapi untuk mengurangi cemas
F. PATHWAYS
Aterosklerosis
Trombosis
Konstriksi arteri koronaria
Aliran darah ke jantung menurun
Oksigen dan nutrisi turun
Jaringan Miocard Iskemik
Nekrose lebih dari 30 menit
Supply dan kebutuhan oksigen ke jantung tidak seimbang
Supply Oksigen ke Miocard turun
Metabolisme an aerob
Seluler hipoksia
Timbunan asam laktat meningkat
nyeri
Cemas
Fatique
Kerusakan pertukaran gas
Intoleransi aktifitas
Integritas membran sel berubah
Kontraktilitas turun
Resiko penurunan curah jantung
COP turun
Kegagalan pompa jantung
Gagal jantung
Resiko kelebihan volume cairan ekstravaskuler
Gangguan perfusi jaringan






























DAFTAR PUSTAKA

Overdoff David, 1990. Kapita selekta kedokteran.Jakarta : Binarupa Aksara.
Price & Wilson, 1994, Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit , EGC, Jakarta
Reeves Chariene J. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 1. Jakarta : Salemba Medika
Sodeman. 1995. Patofisiologi. Edisi 7. Jilid II.Jakarta : Perpustakaan Nasional
Soeparman & Waspadji, 1999, Ilmu penyakit Dalam Jilid II, FK UI, Jakarta

Minggu, 21 Desember 2008

Therapi psiko spiritual

BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang
Berdasarkan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa untuk mewujudkan derajat Kesehatan yang optimal bagi masyarakat diadakan berbagai upaya kesehatan, upaya kesehatan tersebut mencakup upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan dari penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (Kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan dan dilaksanakan bersama antara pemerintah dan masyarakat yang didukung oleh sumber daya kesehatan termasuk tenaga kesehatan(Depkes RI, 2008).
Keperawatan merupakan salah satu profesi yang terlibat dalam pembangunan nasional, bidang kesehatan, dan sekaligus merupakan bagian integral dari Sistem Kesehatan Nasional (SKN). Keperawatan meyakini bahwa manusia dan kemanusiaan merupakan titik sentral setiap upaya pembangunan dengan menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan sesuai Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Bertolak dari pandangan ini disusun paradigma keperawatan yang terdiri atas empat konsep dasar yaitu manusia, lingkungan, kesehatan dan keperawatan.
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga kelompok dan masyarakat, baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia (Hamid, 1998). Pelayanan keperawatan berupa bantuan yang diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya kemauan menuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari – hari secara mandiri (Potter and Perry, 2005).
Salah satu pelayanan keperawatan yang holistik perawat harus memandang pasien secara keseluruhan baik fisik, emosional, sosial dan budaya. Namun demikian aspek non fisik seperti pemenuhan kebutuhan psikologis, sosial dan spiritual terabaikan. Hal ini termasuk tentang kecemasan, kemarahan, dan kesedihan dalam mengatasi masalah dan membantu pasien dalam keadaaan sehat dan sakit. Oleh karena itu perawat diharapkan mampu mengerti tentang perasaan diri, tindakan dan reaksi, juga dapat menerangkan kemampuan emosional (Hamid, 1998).
Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya kebutuhan pelayanan kesehatan menuntut perawat profesional saat ini memiliki pengetahuan dan keterampilan di berbagai bidang. Saat ini perawat memiliki peran yang lebih luas dengan penekanan pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, juga memandang klien secara holistik. Perawat profesional menjalankan fungsi dalam kaitannya dengan berbagai peran pemberi perawatan, pembuat keputusan klinik dan etika, pelindung dan advokat bagi klien, manajer kasus, rehabilitator, komunikator dan pendidik (Potter dan Perry, 2005).
Tugas perawat mulai dari sehat sampai sakit, lahir sampai mati, bahkan perawatan operasi. Pada keperawatan pre operasi yaitu tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hampir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan membahayakan bagi pasien, sehingga tak heran jika seringkali pasien dan keluarganya menunjukkan sikap yang agak berlebihan dengan kecemasan yang dialami. Kecemasan yang dialami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan. Perawat mempunyai peranan yang sangat penting dalam setiap tindakan pembedahan baik pada masa sebelum, selama maupun setelah operasi. Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk mempersiapkan klien baik secara fisik maupun psikis. Tingkat keberhasilan pembedahan sangat tergantung pada setiap tahapan yang dialami dan saling ketergantungan antara tim kesehatan yang terkait (dokter bedah, dokter anestesi dan perawat) di samping peranan pasien yang kooperatif selama proses perioperatif(Effendy,2005).
Keperawatan pre operatif merupakan tahapan awal dari keperawatan perioperatif. Kesuksesan tindakan pembedahan secara keseluruhan sangat tergantung pada fase ini. Hal ini disebabkan fase ini merupakan awalan yang menjadi landasan untuk kesuksesan tahapan-tahapan berikutnya. Kesalahan yang dilakukan pada tahap ini akan berakibat fatal pada tahap berikutnya. Pengkajian secara integral dari fungsi pasien meliputi fungsi fisik biologis dan psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan kesuksesan suatu operasi. Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat berpengaruh terhadap kondisi fisiknya. Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial maupun aktual pada integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Long,1989).
Masalah psikososial khususnya perasaan takut dan cemas selalu dialami setiap orang dalam menghadapi pembedahan. Ketakutan dan kecemasan yang mungkin dialami pasien dapat dideteksi dengan adanya perubahan-perubahan fisik seperti : meningkatnya frekuensi nadi dan pernafasan, gerakan-gerakan tangan yang tidak terkontrol, telapak tangan yang lembab, gelisah, menayakan pertanyaan yang sama berulang kali, sulit tidur, sering berkemih (Capernito,2000). Perawat perlu mengkaji mekanisme koping yang biasa digunakan oleh pasien dalam menghadapi stres. Disamping itu perawat perlu mengkaji hal-hal yang bisa digunakan untuk membantu pasien dalam menghadapi masalah ketakutan dan kecemasan ini, seperti adanya orang terdekat, tingkat perkembangan pasien, faktor pendukung atau support system.(Long,1989).
Kecemasan adalah keadaan yang tidak mengenakan dan tidak merasa nyaman (Hamid, 1999). Disamping itu menurut Stuart and sundeen (1998) menyatakan bahwa kecemasan adalah respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui, interval, samar-samar atau konfliktual. Kecemasan merupakan perasaan individu dan pengalaman subyektif yang tidak dapat diamati secara langsung dan perasaan tanpa obyek yang spesifik dipacu oleh ketidaktahuan dan didahului oleh pengalaman baru.
Gangguan rasa cemas merupakan gejala utama (cemas yang merata atau panik) atau rasa cemas yang dialami bila individu tidak menghindari situasi tertentu atau terpaksa pada pikiran tertentu. Penyebab kecemasan bisa timbul karena berbagai hal, tetapi secara umum kecemasan ditimbulkan karena bahaya yang terdapat dalam diri manusia sendiri yaitu stimulus internal atau juga bahaya dari luar yang bersangkutan ditafsirkan lain karena adanya distorsi persepsi dari realitas eksternal (Salan 1997). Hal ini bisa juga terjadi pada setiap orang termasuk seseorang yang akan mengalami proses operasi. Kondisi seseorang yang pre operasi menunjukkan suatu kejadian yang dirasakan penuh ketidakpastian sehingga menimbulkan perasaan cemas, bahkan ada yang berlanjut sampai panik, karena reaksi pembedahan dapat memunculkan reaksi psikologis pada pasien (Stuart and Sandeen, 1995).
Dalam keadaan cemas, tubuh akan memproduksi hormon kortisol secara berlebihan yang akan berakibat meningkatkan tekanan darah, dada sesak, serta emosi tidak stabil. Akibat dari kecemasan pasien pre operasi yang sangat hebat maka ada kemungkinan operasi tidak bisa dilaksanakan karena pada pasien yang mengalami kecemasan sebelum operasi akan muncul kelainan seperti tekanan darah yang meningkat sehingga apabila tetap dilakukan operasi akan dapat mengakibatkan penyulit terutama dalam menghentikan perdarahan dan bahkan setelah operasipun akan mengganggu proses dari penyembuhan. (Jong, 1997)
Menurut Pooter and Perry (2005) ada berbagai alasan yang dapat menyebabkan ketakutan atau kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan antara lain adalah takut nyeri setelah pembedahan, takut terjadi perubahan fisik, menjadi buruk rupa dan tidak berfungsi normal (body image), takut akan keganasan bila diagnosa yang ditegakan belum pasti, takut mempunyai kondisi yang sama dengan orang lain yang mempunyai penyakit yang sama, takut/ngeri menghadapi ruang operasi, peralatan pembedahan dan petugas, takut mati pada saat dibius atau tidak akan sadar lagi, takut operasi akan gagal. Salah satu tindakan untuk mengurangi tingkat kecemasan adalah dengan cara mempersiapkan mental dari pasien. Persiapan mental yang kurang memadai dapat mempengaruhi pengambilan keputusan pasien dan keluarganya. Sehingga tidak jarang pasien menolak operasi yang sebelumnya telah disetujui dan biasanya pasien pulang tanpa operasi dan beberapa hari kemudian datang lagi ke rumah sakit setalah merasa sudah siap dan hal ini berarti telah menunda operasi yang mestinya sudah dilakukan beberapa hari/minggu yang lalu. Oleh karena itu persiapan mental pasien menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan didukung oleh keluarga/orang terdekat pasien. Persiapan mental dapat dilakukan dengan bantuan keluarga dan perawat. Kehadiran dan keterlibatan keluarga sangat mendukung persiapan mental pasien. Keluarga hanya perlu mendampingi pasien sebelum operasi, memberikan doa dan dukungan pasien dengan kata-kata yang menenangkan hati pasien dan meneguhkan keputusan pasien untuk menjalani operasi (Maramis, 2004).
Agama memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan pribadi, termasuk didalamnya keperawatan pre operatif. Oleh karena itu sudah pada tempatnya jika dalam menghadapi setiap masalah yang timbul selalu dikaitkan dengan kehidupan religius. Manusia mempunyai keyakinan untuk memperoleh ketenangan hidup spiritualnya. Hidup keagamaan memberikan kekuatan jiwa bagi seseorang untuk menghadapi tantangan dan percobaan hidup, memberikan bantuan moril di dalam menghadapi krisis, serta menimbulkan sikap rela menerima kenyataan sebagaimana Tuhan menakdirkan-Nya. Hidup yang dilandasi nilai-nilai agama akan tumbuh kepribadian sehat yang didalamnya terkandung unsur-unsur keagamaan dan keimanan yang cukup teguh. Tetapi sebaliknya orang yang jiwanya goncang dan jauh dari agama maka individu tersebut akan mudah cemas, marah, putus asa dan kecewa. Pendapat ini diperkuat dengan adanya firman Allah yaitu :
“Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati”(QS. Al-Baqarah, 2 : 38). Ayat di atas menguatkan kepercayaan bahwa dengan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh agama akan membawa ketenangan batin (Hawari , 1998)
Keperawatan spiritual merupakan suatu elemen perawatan kesehatan berkualitas dengan menunjukkan kasih sayang pada klien sehingga terbentuk hubungan saling percaya dan rasa saling percaya diperkuat ketika pemberi perawatan menghargai dan mendukung kesejahteraan spiritual klien (Potter and Perry, 2005). Perawat sebagai orang yang pertama yang secara konsisten selama 24 jam menjalin kontak dengan pasien, berperan dalam memberikan pemenuhan kebutuhan spiritual bagi pasien. Salah satu implementasi atau pelaksanaan dari perawatan spiritual adalah dengan mengusahakan kemudahan seperti mendatangkan pemuka agama sesuai dengan yang diyakini klien, memberi privacy untuk berdoa, ataupun memberi kelonggaran bagi klien untuk berinteraksi dengan keluarga dan teman (Hamid, 2000).
Ada gambaran penelitian yang dilakukan oleh Larson (1992) terhadap pasien-pasien yang akan dilakukan operasi, hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa pasien-pasien lanjut usia dan religius (banyak berdoa dan berzikir) kurang mengalami rasa ketakutan dan kecemasan terhadap operasi yang dijalaninya. Mereka tidak merasa takut mati serta tidak menunda-nunda jadwal operasi. Temuan ini berbeda dengan pasien-pasien usia muda dan tidak religius dalam menghadapi operasi, mereka mengalami ketakutan, kecemasan, dan takut mati serta seringkali menuda-nunda operasi. Penelitian lainnya berjudul ”Religious Commitment and Health” (APA,1992) menyimpulkan bahwa komitmen beragama amat penting dalam pencegahan agar seseorang tidak jatuh sakit, meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengatasi penderitaan bila ia sedang sakit, serta mempercepat proses penyembuhan selain terapi medis yang diberikan (Hawari,2002).
Dari beberapa hal diatas yaitu diantaranya persiapan mental spiritual yang tidak baik akan mengalami penundaan atau kegagalan operasi, bebera dapat kami ambil sebuah contoh untuk membuktikan secara signifikan mengenai arti penting dari pemenuhan kebutuhan spiritual khususnya therapi psiko spiritual pada pasien pre operasi sangat penting. Disebut penting karena tindakan pembedahan sendiri merupakan ancaman potensial maupun aktual pada integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis dan psikologis (Long,1989)
Dalam studi pendahuluan di rumah sakit PKU Muhammadiyah pada bulan April 2008 didapatkan informasi bahwa rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta merupakan rumah sakit swasta di Yogyakarta yang merupakan amal usaha pimpinan pusat persyarikatan Muhammadiyah yang didirikan pada tanggal 15 Februari1923, termasuk rumah sakit tipe C plus dengan terakreditasi pada 12 bidang pelayanan. Rumah sakit PKU Yogyakarta ini melanyani operasi dengan jenis operasi besar, sedang, kecil, dan bedah khusus. Pada tahun 2006 pasien operasi sejumlah 2500 pasien, tahun 2007 sejumlah 2800 pasien, tahun 2008 trimester 1 sejumlah 800 pasien, jadi rata-rata tiap tahun adalah 2600 pasien. Kebanyakan pasien operasi rawat inap dikelas II dan kelas III dengan jumlah rata-rata 150 pasien tiap bulan. Jumlah operasi ringan sebanyak 25 orang, operasi sedang sebanyak 70 orang , operasi besar sebanyak 25 orang, operasi khusus sebanyak 30 orang. Sedangkan menurut kelasnya dibedakan kelas 2 sebanyak 60 orang, kelas 3 sebanyak 90 orang (bagian rekam medis RS PKU Yogyakarta 2008).
Dari wawancara yang dilakukan peneliti dari 10 orang pasien yang akan dilakukan operasi, ternyata didapatkan kurang lebih 60% mengalami kecemasan dari tingkat yang ringan sampai berat, dengan rincian cemas ringan sebanyak 3 orang, cemas sedang 2 orang, cemas berat 1 orang, dan 10% diantaranya ada yang sampai mengalami penundaan operasi karena mengalami kecemasan yang berat dan kurang lebih 30% tidak mengalai kecemasan. Ternyata penyebab utama kecemasan yang dialami pasien adalah ketakutan pasien terhadap proses pelaksanaan operasi dan proses sesudahnya.
Kebijakan dari rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta dalam menghadapi pasien yang akan dilakukan operasi baik yang operasi kecil, sedang, berat maupun khusus diberikan buku doa-doa yang dikeluarkan dari rumah sakit, dibimbing dengan bagian bina rohani Islam, serta dari dokter anestesi memberikan obat premedikasi di ruangan. Dari kebijakan tersebut ternyata beberapa pasien masih merasa kurang diperhatikan masalah psikososial kecemasan karena orang yang paling dekat dengan pasien yaitu perawat, kurang memberikan pemenuhan kebutuhan mental spiritual terutama menjelang operasi yang sering diperhatikan hanya masalah fisik saja. Hal ini dibuktikan dengan beberapa survei dari rumah sakit hasilnya 70 %, perawat jarang menanyakan atau mengurusi masalah psikis atau mental, hanya memperhatikan fisik saja (bidang keperawatan).
Implementasi tindakan keperawatan yang bisa dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan spiritual, khususnya therapy psiko spiritual antara lain : memberikan dukungan emosional, membantu dan mengajarkan doa sebelum dan sesudah operasi, memotivasi dan mengingatkan waktu ibadah sholat, mengajarkan relaksasi dengan berzikir ketika sedang kesakitan. Disamping itu juga therapy psiko spiritual tentang konsep sehat dan sakit dari sudut pandang agama bimbingan berdzikir dan berdoa untuk selalu mengingat Allah. Menurut Potter dan Perry (2005) dukungan psikologis yang perlu dilakukan antara lain : memberikan dukungan emosional pada pasien, berdiri di dekat klien dan memberikan sentuhan selama prosedur induksi, mengkaji status emosional klien, mengkomunikasikan status emosional klien kepada tim kesehatan lain.
Dari latar belakang yang penulis uraikan diatas, maka penulis mempunyai keinginan meneliti pengaruh therapi psiko spiritual terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi.
B. Masalah penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka peneliti mencoba merumuskan suatu masalah yaitu :
Adakah pengaruh therapi psiko spiritual terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang rawat inap kelas 2 dan kelas 3 di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta?
C.Tujuan penelitian
1) Tujuan umum
Diketahuinya pengaruh therapi psiko spiritual terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi.
2) Tujuan khusus
a) Diketahuinya therapi psiko spiritual pasien pre operasi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
b) Diketahuinya tingkat kecemasan pasien pre operasi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta sebelum dan sesudah dilakukan therapi psiko spiritual.
c) Diketahuinya pengaruh therapi psiko spiritual terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

D.Ruang lingkup penelitian
Tempat penelitian
Tempat penelitian yang akan dilakukan penulis adalah di ruang rawat inap kelas 2 dan kelas 3 RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Waktu penelitian
Waktu penelitian ini adalah bulan November 2008 sampai Desember 2008
Responden penelitian
Responden penelitian ini adalah pasien pre operasi di ruang rawat inap kelas 2 dan kelas 3 RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Materi penelitian
Penelitian ini berkaitan dengan ilmu keperawatan jiwa dengan penekanan pada therapi psiko spiritual yang dihubungkan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi.
E. Manfaat penelitian
1. Bagi rumah sakit
Memberikan masukan dalam upaya meningkatkan dan mengembangkan keperawatan, sebagai bahan untuk mengambil kebijakan mengenai therapi psiko spiritual pada pasien yang akan dilakukan operasi sehingga dapat dibuat protap (prosedur tetap pasien yang akan dilakukan operasi).
2. Bagi institusi pendidikan
Sebagai masukan dalam proses belajar mengajar, kalau perlu dimasukan dalam mata ajaran khusus terutama mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan spiritual yang harus dimiliki sebagai modal untuk menjadi perawat yang professional.
Bagi perawat yang lain
Mendapatkan gambaran seberapa besar manfaat therapy psiko spiritual terhadap penurunan tingkat kecemasan pasien pre operasi dan juga pedoman pelaksanaan bimbingan spiritual pada pasien pre operasi oleh perawat.
Bagi peneliti yang lain
Sebagai bahan teori dan masukan untuk dasar-dasar penelitian selanjutnya.
F. Keaslian penelitian
Menurut pengetahuan peneliti sejauh ini belum ada yang meneliti mengenai pangaruh bimbingan spiritual terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian lain yang hampir mirip dengan yang peneliti lakukan adalah :
Pengaruh terapi psiko religius terhadap tingkat kecemasan pasien gangguan jiwa di RS Grasia Pakem Sleman oleh Suyadi ( 2006). Penelitian ini difokuskan pada pasien gangguan jiwa yang diberikan terapi psikoreligius. Hasil penelitian yang disimpulkan ada pengaruh pemberian terapi psikoreligius terhadap kecemasan pasien gangguan jiwa. Metode yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan rancangan non equivalen kontrol group.
Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah subyek penelitian dari peneliti sekarang adalah pasien pre operasi dengan tempat penelitian adalah di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan metode yang digunakan perbandingan kelompok statis (Static Group Comparason), analisa datanya dengan menggunakan uji t.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.TINJAUAN TEORI
I. Keperawatan perioperatif
Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hampir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan membahayakan bagi pasien. Maka tak heran jika seringkali pasien dan keluarganya menunjukkan sikap yang agak berlebihan dengan kecemasan yang mereka alami(Jong, 1998)
Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan. Perawat mempunyai peranan yang sangat penting dalam setiap tindakan pembedahan baik pada masa sebelum, selama maupun setelah operasi. Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk mempersiapkan klien baik secara fisik maupun psikis. Tingkat keberhasilan pembedahan sangat tergantung pada setiap tahapan yang dialami dan saling ketergantungan antara tim kesehatan yang terkait yaitu dokter bedah, dokter anestesi dan perawat, di samping peranan pasien yang kooperatif selama dalam menjalani proses perioperatif (Efendi,2005). Ada 3 faktor penting yang terkait dalam pembedahan, yaitu penyakit pasien, jenis pembedahan yang dilakukan dan pasien sendiri (Jong, 1998). Dari ketiga faktor tersebut faktor pasien merupakan hal yang paling penting, karena bagi penyakit tersebut tindakan pembedahan adalah hal yang baik/benar. Tetapi bagi pasien sendiri pembedahan mungkin merupakan hal yang paling mengerikan yang pernah mereka alami. Mengingat hal tersebut diatas, maka sangatlah penting untuk melibatkan pasien dalam setiap langkah-langkah perioperatif. Tindakan perawatan perioperatif yang berkesinambungan dan tepat akan sangat berpengaruh terhadap suksesnya pembedahan dan kesembuhan dari pasien itu sendiri (Efendi,2002). Tindakan operasi atau pembedahan, baik elektif maupun kedaruratan adalah peristiwa kompleks yang menegangkan. Kebanyakan prosedur bedah dilakukan di kamar operasi rumah sakit, meskipun beberapa prosedur yang lebih sederhana tidak memerlukan hospitalisasi dan dilakukan di klinik-klinik bedah dan unit bedah ambulatori. Individu dengan masalah kesehatan yang memerlukan intervensi pembedahan mencakup pula pemberian anastesi atau pembiusan yang meliputi anestesi lokal, regional atau umum (Smeltzer, Bare, 2002).
Menurut Long (1996) keperawatan perioperatif dibagi menjadi 3 tahapan yaitu :
1. Fase pra operatif dimulai ketika ada keputusan untuk dilakukan intervensi bedah dan diakhiri ketika pasien dikirim ke meja operasi. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien di tatanan klinik ataupun rumah, wawancara pra operatif dan menyiapkan pasien untuk anestesi yang diberikan dan pembedahan Brunner & Suddarth. (2002).
2. Fase intra operatif dimulai ketika pasien masuk atau dipindah ke instalasi bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan mencakup pemasangan IV cath, pemberian medikasi intaravena, melakukan pemantauan kondisi fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien.
3. Fase pasca operatif dimulai dengan masuknya pasien ke ruang pemulihan (recovery room) dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah. Lingkup aktivitas keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Menurut Wibowo (2001) pada fase ini fokus pengkajian meliputi efek agen anestesi dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada peningkatan penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan dan rehabilitasi serta pemulangan.
Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat berpengaruh terhadap kondisi fisiknya. Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial maupun aktual pada integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Long, 1989). Contoh dari perubahan fisiologis yang muncul akibat kecemasan atau ketakutan antara lain pasien dengan riwayat hipertensi jika mengalami kecemasan sebelum operasi dapat mengakibatkan sulit tidur dan tekanan darahnya akan meningkat sehingga operasi bisa dibatalkan, pasien wanita yang terlalu cemas menghadapi operasi dapat mengalami menstruasi lebih cepat dari biasanya, sehingga operasi terpaksa harus ditunda.
Menurut Long (1989) ada berbagai alasan yang dapat menyebabkan ketakutan atau kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan antara lain yaitu takut nyeri setelah pembedahan, takut terjadi perubahan fisik, menjadi buruk rupa dan tidak berfungsi normal gangguan body image, takut keganasan bila diagnosa yang ditegakan belum pasti, takut atau cemas mengalami kondisi yang sama dengan orang lain yang mempunyai penyakit yang sama, takut atau ngeri menghadapi ruang operasi, peralatan pembedahan dan petugas, takut mati saat dibius atau tidak sadar lagi, takut operasi akan gagal.
Untuk mengurangi dan mengatasi kecemasan pasien, perawat dapat menanyakan hal-hal yang terkait dengan persiapan operasi antara lain pengalaman operasi sebelumnya, pengertian pasien tentang tujuan atau alasan dilakukan operasi, pengetahuan pasien tentang prosedur (pre, intra, post operasi), pengetahuan tentang latihan yang harus dilakukan sebelum operasi dan harus dijalankan setelah operasi, seperti latihan nafas dalam, batuk efektif, ROM, dll(Efendi, 2002).
Menurut Brunner & Suddarth. (2002) persiapan mental yang kurang memadai dapat mempengaruhi pengambilan keputusan pasien dan keluarganya. Sehingga tidak jarang pasien menolak operasi yang sebelumnya telah disetujui dan biasanya pasien pulang tanpa operasi dan beberapa hari kemudian datang lagi ke rumah sakit setalah merasa sudah siap dan hal ini berarti telah menunda operasi yang mestinya sudah dilakukan beberapa hari/minggu yang lalu . Oleh karena itu persiapan mental pasien menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan didukung oleh keluarga atau orang yang terdekat dengan pasien. Persiapan mental dapat dilakukan dengan bantuan keluarga dan perawat. Kehadiran dan keterlibatan keluarga sangat mendukung persiapan mental pasien. Keluarga hanya perlu mendampingi pasien sebelum operasi, memberikan doa dan dukungan pasien dengan kata-kata yang menenangkan hati pasien dan meneguhkan keputusan pasien untuk menjalani operasi.
Perawat perlu memberikan dukungan mental pada pasien yang dilakukan operasi. Menurut Efendi (2005) dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu membantu pasien mengetahui tentang tindakan yang dialami pasien sebelum operasi, memberikan informasi pada pasien tentang waktu operasi, hal-hal yang dialami pasien selama proses operasi, menunjukkan kamar operasi, memberikan penjelasan terlebih dahulu sebelum setiap tindakan persiapan operasi sesuai dengan tingkat perkembangan, gunakan bahasa yang sederhana dan jelas, memberi kesempatan pada pasien dan keluarganya untuk menanyakan tentang segala prosedur yang ada, dan memberi kesempatan pada pasien dan keluarga untuk berdoa bersama-sama sebelum pasien diantar ke kamar operasi, mengoreksi pengertian yang salah tentang tindakan pembedahan dan hal-hal lain karena pengertian yang salah akan menimbulkan kecemasan pada pasien. Dan juga bisa kolaborasi dengan dokter terkait dengan pemberian obat pre medikasi, seperti valium dan diazepam sebelum pasien tidur untuk menurunkan kecemasan dan pasien terpenuhi kebutuhan istirahatnya(Smeltzer, Bare, 2002).
Indikasi dan klasifikasi dari dilakukannya tindakan pembedahan diantaranya adalah diagnostik : biopsi atau laparatomi eksplorasi; kuratif : eksisi tumor atau mengangkat apendiks yang mengalami inflamasi; reparatif : memperbaiki luka multipel; rekonstruktif atau kosmetik : mammoplasty atau bedah plastik; paliatif : seperti menghilangkan nyeri atau memperbaiki masalah, contohnya pemasangan selang gastrostomi yang dipasang untuk mengkompensasi terhadap ketidakmampuan menelan makanan (Abror, 2004).
Menurut urgensinya tindakan pembedahan dapat diklasifikasikan dalam 5 tingkatan yaitu kedaruratan atau emergensi : indikasi pembedahan tanpa ditunda, gangguan mungkin mengancam jiwa; urgen : pembedahan dapat dilakukan dalam waktu 24-30 jam, diperlukan : pembedahan dapat direncanakan dalam beberapa minggu atau bulan; elektif : indikasi pembedahan, bila tidak dialkukan pembedahan maka tidak terlalu membahayakan, pilihan : indikasi pembedahan merupakan pilihan pribadi dan biasanya terkait dengan estetika(Wibowo, 2001).
Tindakan pembedahan menurut faktor resikonya dibedakan menjadi minor : menimbulkan trauma fisik yang minimal dengan resiko kerusakan yang minim, mayor : menimbulkan trauma fisik yang luas, resiko kematian sangat serius (Abror, 2004).
II. Kecemasan
1. Pengertian kecemasan
Kecemasan adalah keadaan yang tidak mengenakan dan tidak merasa nyaman ( Hamid,2000). Kecemasan merupakan perasaan yang sering dialami manusia pada sepanjang hidupnya (Husodo,1988). Kecemasan muncul sebagai gejala yang normal, dapat pula sebagai gejala yang menyertai gangguan jiwa, juga bisa muncul sebagai sindroma yang disebut sebagai proses atau cemas (Salan, 1997 ). Kecemasan adalah respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui, interval, samar-samar atau konfliktual. Kecemasan merupakan perasaan individu dan pengalaman subyektif yang tidak dapat diamati secara langsung dan perasaan tanpa obyek yang spesifik dipacu oleh ketidaktahuan dan didahului oleh pengalaman baru (Stuart and Sundeen 1995).
Calhoun dan Acocella (1990) menyatakan bahwa kecemasan adalah ketakutan yang tidak nyata, suatu perasaan terancam sebagai tanggapan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak mengancam. Kejadian ini dimungkinkan dalam bentuk nyata dan kabur dan dapat bersifat realistik dan tidak realistik.
Ketidakpastian dapat menimbulkan kecemasan yang berwujud pada ketegangan, rasa tidak aman, kekhawatiran, yang timbul karena dirasakan akan mengalami kejadian yang tidak menyenangkan (Maramis, 2004). Beratnya tanggung jawab yang dipikul menyebabkan timbulnya berbagai kecemasan akan kehidupan yang akan dilalui di masa yang akan datang.
Kecemasan dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab seperti sering mengalami frustasi, pengalaman yang tidak menyenangkan, berhubungan dengan masa depan dan lain–lain. Perwujudan kecemasan sangat sulit diketahui, tetapi dapat diamati dari reaksi–reaksi yang ditimbulkannya. Freud (dalam Stuart and Laraia (2001) menjelaskan bahwa individu dalam kehidupannya sehari-hari selalu ingin mendapatkan kepuasan. Peranan lingkungan terhadap diri individu dan mereduksi ketegangan, tetapi sebaliknya lingkungan juga dapat mengecewakan individu dan menimbulkan perasaan tidak aman sehingga individu akan merasa cemas, takut dan tegang. Jika ketegangan tersebut tidak bisa dikontrol, terjadilah kecemasan pada diri individu.
Keadaan cemas yang wajar merupakan respons terhadap adanya ancaman atau bahaya luar yang nyata jelas dan tidak bersumber pada adanya konflik. Sedangkan cemas yang sakit (anxietas) merupakan respons terhadap adanya bahaya yang lebih kompleks, tidak jelas sumber penyebabnya, dan lebih banyak melibatkan konflik jiwa yang ada dalam diri sendiri (Husodo, 1998).
Cemas itu timbul akibat adanya respons terhadap kondisi stress atau konflik. Rangsangan berupa konflik, baik yang datang dari luar maupun dalam diri sendiri, itu akan menimbulkan respons dari sistem saraf yang mengatur pelepasan hormon tertentu. Akibat pelepasan hormon tersebut, maka muncul perangsangan pada organ-organ seperti lambung, jantung, pembuluh daerah maupun alat-alat gerak. Karena bentuk respons yang demikian, penderita biasanya tidak menyadari hal itu sebagai hubungan sebab akibat (Stuart, and Sundeen, 1995).
Setiap kecemasan selalu melibatkan komponen kejiwaan maupun organo biologik walaupun pada tiap individu bentuknya tidak sama. Kebanyakan gejala tersebut merupakan penampakan dari terangsangnya sistem saraf otonom maupun viceral. Penderita ada yang mengeluh menjadi sering kencing atau malah sulit kencing, mulas, mencret, kembung, perih di lambung, keringat dingin, berdebar-debar, darah tinggi, sakit kepala dan sesak napas. Pada sistem alat gerak dapat timbul kejang-kejang, nyeri otot, keluhan seperti rematik dan lainnya (Salan, 1997).
2. Tingkat kecemasan
Menurut Stuart and Sundeen, (1995), klasifikasi dari tingkat kecemasan dibedakan menjadi empat tingkatan kecemasan yaitu ringan yang mempunyai makna orang lebih waspada terhadap lingkungan, lahan persepsinya meningkat, kecemasan dapat memotivasi belajar; sedang yang mempunyai makna orang akan lebih memfokuskan hal yang mencemaskan, lahan persepsinya mulai menyempit; berat yang mempunyai makna lahan persepsinya semakin sempit, perilaku ditujukan untuk mengurangi kecemasan, selalu mengalihkan hal-hal lain dan memerlukan banyak pengarahan; panik merupakan kecemasan yang sudah mengancam, pengendalian dirinya tidak mampu untuk melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan, terjadi disorganisasi kepribadian
Untuk mengetahui tingkat kecemasan dapat digunakan skala Hamilton Anxiety Scale yang dapat memodifikasi Analog Anxiety Scale (AAS), Anxiety dari Catel, Manifest Anxiety Quistionary dari Sarasor (cit Damarji, 2001). Pada penelitian ini data dikumpulkan menggunakan TMAS (Taylor Manifest Anxiety Scale). Kuesioner TMAS ini diciptakan oleh Taylor pada tahun 1953 di universitas Nort Westrn dan terdiri dari 50 item perrtanyaan. Djuni Utari (1978) dan Sri Hartati Yana (1979) telah menerjemahkan kuesioner TMAS dalam bahasa Indonesia (Sutarman, 1980).

3. Karakteristik kecemasaan
Menurut Carpenito (2000), kecemasan berasal dari sumber internal maupun eksternal, stressor pencetus dapat dikelompokkan dalam kategori yaitu ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidak mampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktifitas sehari-hari, ancaman terhadap sistem diri sendiri dapat membahayakan identitas harga diri, dari fungsi sosial yang terintegrasi seseorang
Menurut Carpenito ( 2000 ), sindrom kecemasan bervariasi tergantung dengan tingkat kecemasan yang dialami seseorang dimana manifestasi gejalanya terdiri atas kategori :
1) Gejala fisiologis
Peningkatan frekuensi nadi, tekanan darah, nafas, diaforesis (berkeringat), gemetar, mual, kadang sampai muntah, sering BAK atau BAB, kadang sampai diare, insomnia, kelelahan dan kelemahan, kemerahan atau pucat pada wajah, mulut kering, nyeri khususnya dada , pinggang, leher, gelisah, pingsan, pusing, rasa panas dingin.
2) Gejala emosional
Individu mengatakan merasa ketakutan dan ketidakberdayaan, gugup, kehilangan proyeksi diri, tegang, tidak dapat rileks, individu juga memperlihatkan peka terhadap rangsangan , tidak sabar, mudah marah, mudah menangis, cenderung menyalahkan orang lain, mengkritik diri sendiri dan orang lain, menarik diri, kurang inisiatif, dan mengutuk diri sendiri.
3) Gejala kognitif
Tidak mampu berkonsentrasi, kurangnya orientasi lingkungan, pelupa, termenung, orientasi pada masa lalu dari saat ini dan yang akan datang, memblok pikiran atau ketidak mampuan untuk mengingat, dan perhatian yang berlebihan.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan
Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi kecemasan antara lain:
1) Tingkat pengetahuan
Kecemasan adalah respon manusia yang dapat dipelajari, sehinggga ketidaktahuan menjadi faktor penunjang terjadinya kecemasan. Pengalaman terhadap sesuatu yang pernah dialami seseorang juga akan mengubah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat non formal dan sering dibawa dalam situasi yang sama atau mendekati situasi yang pernah terjadi pada dirinya(Notoatmojo,2003).
2) Tingkat pendidikan
Husodo (1998) menyatakan bahwa status pendidikan yang rendah akan menyebabkan seseorang mengalami stress, dimana stress dan kecemasan yang terjadi pada pendidikan yang rendah disebabkan kurangnya informasi yang didapatkan orang tersebut.
3) Umur
Soewardi (1997) mengungkapkan bahwa umur yang lebih muda akan mengalami tingkat stress dan kecemasan yang lebih tinggi daripada yang berusia tua.
5. Patofisiologi dari kecemasan
Secara singkat patofisiologi terjadinya kecemasan dapat di gambarkan sebagai berikut (Muslim dalam Purwani, 2004) :
Peristiwa (life events)

Individu Pola hidup (life style)

Sistem saraf pusat

Hipotalamus
-sistem limbic
- sistem aktivasi retik
- sistem aktivasi vialsi / SAR
Gambar 1 patofiologi cemas
6. Teori tentang kecemasan
Menurut Stuard and Laraia (2001) ada berbagai teori dikembangkan untuk menjelaskan tentang kecemasan, diantaranya adalah :
1) Teori psikoanalitik
Freud memandang bahwa pada kecemasan tubuh akan secara otomatis apabila kita menerima stimulus yang berlebihan melampaui kemampuan untuk menanganinya. Stimulus tersebut dapat berasal dari dalam atau dari luar dirinya. Selanjutnya digambarkan dua tajuk kecemasan yaitu primary anxiety, dimana keadaan menegangkan yang disebabkan faktor luar, sedangkan sub sequent anxiety dipandang sebagai konflik emosi diantara elemen kepribadian-kepribadian yaitu id, ego, super ego.
2) Teori interpersonal
Menurut Sullivan (Hendarno, 1997) bahwa kecemasan timbul akibat ketakutan atau ketidakmampuan untuk berhubungan secara interpersonal, serta sebagai akibat penolakan. Hal ini dikaitkan dengan trauma perkembangan, perpisahan, kehilangan dan lain sebagainya. Sullivan mengidentifikasi 2 aspek kecemasan dari hubungan perawat-klien, pertama kecemasan ringan-sedang di ekspresikan dari kecemasan individu, kedua area dalam kepribadian yang disaat kecemasan sering menjadi area penting dalam pertumbuhan, dimana dalam hubungan terapeutik individu belajar untuk mengatasi kecemasan secara konstruktif.
Will (Hendarno, 1997) berpendapat bahwa harga diri seseorang merupakan faktor penting yang berhubungan dengan kecemasan seseorang yang mempunyai predisposisi mengalami kecemasan adalah orang yang mudah terancam, mempunyai harga diri rendah, mempunyai opini negatif terhadap dirinya, ragu-ragu akan kemampuannya untuk mencapai sukses.
3) Teori biologik
Dalam otak terdapat reseptor spesifik terhadap benzodiazepin, reseptor ini dapat mengatur timbulnya kecemasan. GABA (Gama Amino Batiric Acid) merupakan neurotransmiter penting dalam mengatur inhibisi presipnatik dalam susunan sarap pusat. Efektifitas benzodiazepines dalam pengobatan klien cemas antara lain melalui keterlibatan GABA dalam patofisiologi dari kecemasan disertai dengan gangguan fisik yang menurunkan kapasitas seseorang dalam menghadapi stresor seperti adanya perubahan dalam sistem kardiovaskuler, pernapasan, gastrointestinal dan otot (Salan,1997).

7. Stresor presipitasi kecemasan
Menurut Stuart, and Sundeen (1995), stresor presipitasi dari kecemasan ini dapat disebabkan oleh berbagai sumber yaitu sumber internal maupun sumber eksternal, hal tersebut dibedakan menjadi :
1) Ancaman terhadap integritas fisik merupakan ketidakmampuan fisiologis atau penurunan kapasitas seseorang untuk melakukan aktifitas sehari-hari meliputi : sumber eksternal : bisa disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, polusi, lingkungan, ancaman keselamatan, injury; sedangkan sumber internal : merupakan kegagalan mekanisme fisik sesorang seperti jantung, sistem imun, termoregulator menurun, perubahan biologis normal seperti kehamilan.
2) Ancaman terhadap self esteem merupakan sesuatu yang terjadi yang dapat merusak identitas harapan diri dan integritas fungsi sosial meliputi sumber eksternal : berbagai kehilangan seperti kehilangan orang tua, teman dekat, perceraian, perubahan status pekerjaan, pindah rumah, tekanan sosial; sedangkan sumber internal : kesulitan dalam hubungan interpersonal dalam rumah, ditempat kerja, di masyarakat.
8. Mekanisme koping kecemasan
Jika mengalami kecemasan individu akan menggunakan koping untuk mencoba mengurangi kecemasan (Stuart,and Sundeen,1995). Ketidakmampuan individu untuk mengatasi kecemasan secara konstruktif adalah penyebab utama terbentuknya perilaku mal adaptif. Koping yang biasa digunakan oleh seseorang pada respon kecemasan adalah menangis, tidur, makan, tertawa, olah raga, berkhayal, minum-minuman. Dalam hubungan interpersonal seseorang akan menghindari kontak mata, menggunakan kata-kata klise atau menarik diri. Pada kecemasan tingkat sedang, berat, dan panik merupakan ancaman berat pada ego, sehingga memerlukan energi untuk mengatasi ancaman yaitu dengan menggunakan mekanisme koping.
Menurut Potter and Perry, (2005) ada 2 macam mekanisme koping :
1) Reaksi berorientasi pada tugas (Task oriented reaktion)
Cara ini digunakan untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan konflik dan memenuhi kebutuhan. Ada 3 macam reaksi berorientasi pada tugas yaitu perilaku menyerang : dapat konstruktif (akan bertindak asertif) dan dapat juga destuktif (akan bertindak agresif dan bermusuhan); perilaku menarik diri (with drawl behavior) : bisa secara fisik berupa melarikan diri atau menarik diri dari sumber stress (menjauhi polusi, menjauhi sumber infeksi), bisa juga secara psikologis yaitu apatis, mengisolasi diri, tidak berminat, sering disertai perasaan takut dan bermusuhan; kompromi (compromise), ini merupakan cara yang konstruktif yaitu terjadi pendekatan dan penyelesaian masalah dengan negosiasi.
2) Reaksi berorientasi pada ego (ego oriented reaction)
Sering disebut mekanisme pertahanan mental. Reaksi ini berguna untuk melindungi diri yang merupakan garis pertahanan jiwa pertama. Setiap orang menggunakan mekanisme pertahanan dan sering berubah untuk mengatasi kecemasan ringan dan sedang karena dapat melindungi individu dari perasaan tidak adekuat, tidak berguna, tidak berharga, dan mencegah kesadaran terhadap cemas. Jika berlangsung lama dapat mengakibatkan gangguan orientasi realistis, hubungan interpersonal dan menurunnya produktivitas. Koping ini berorientasi secara tidak sadar sehingga penyelesaian sering tidak realistis.
Mekanisme pertahanan ego yang sering digunakan untuk mengatasi kecemasan (Stuart, and Sundeen, 1995), antara lain :
a. Rasionalisasi : suatu usaha untuk menghindari konflik jiwa dengan memberi alasan yang rasional.
b. Diplacement : pemindahan tingkah laku kepada tingkah laku yang bentuknya atau obyeknya lain.
c. Identifikasi : cara yang digunakan individu untuk menghadapi orang lain dan membuatnya menjadi bagian kepribadiannya, ia ingin serupa orang lain dan bersifat seperti orang itu.
d. Over kompensasi / reaction fermation : tingkah laku yang gagal mencapai tujuan, dan tidak mengakui tujuan pertama tersebut dengan melupakan dan melebih-lebihkan tujuan kedua yang biasanya berlawanan dengan tujuan yang pertama.
e. Introspeksi : memasukan dalam pribadi sifat-sifat dari pribadi orang lain.
f. Represi : konflik pikiran, impul-impuls yang tidak dapat diterima dengan paksaan, ditekan ke dalam alam tidak sadar dan sengaja dilupakan.
g. Supresi : menekan konflik, impul-impuls yang tidak dapat diterima dengan secara sadar. Individu tidak mau memikirkan hal-hal yang kurang menyaenangkan dirinya.
h. Denial : mekanisme perilaku penolakan terhadap sesuatu yang tidak meyenangkan dirinya.
i. Fantasi : apabila seseorang ,menghadapi konflik-frustasi, ia menarik diri dengan berkhayal atau fantasi, melamun.
j. Negativisme : perilaku seseorang yang selalu bertentangan atau menentang otoritas orang lain dengan tingkah laku tidak terpuji.
III.
Therapi psiko spiritual
1. Pengertian spiritual
Pentingnya agama dalam kesehatan dapat dilihat dari batasan Organisasi kesehatan se Dunia (WHO, 1984), yang menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehatan seutuhnya. Bila sebelumnya pada tahun 1947 WHO memberikan batasan sehat hanya dari 3 aspek saja yaitu sehat dalam arti fisik (organobiologi), sehat dalam arti mental (psikologik/psikiatrik) dan sehat dalam arti sosial, maka sejak 1984 batasan tersebut sudah ditambah dengan aspek agama (spiritual), yang oleh American Psychiatric Assosiation(APA) dikenal dengan rumusan “bio-psyko-sosio-spiritual” (Hawari, 2002).
Lokakarya yang diselenggarakan APA pada tahun 1993 dengan judul Religion and Psychiatry Model of Partnership memberikan suatu anjuran untuk menambahkan terapi keagamaan disamping terapi psikis dan medis (Hawari, 2002). Adapun Larson (1992) dan beberapa. pakar lainnya dalam berbagai penelitian yang berjudul Religious Commitment and Health, menyimpulkan bahwa di dalam memandu kesehatan manusia yang serba kompleks ini dengan segala keterkaitannya, hendaknya komitmen agama sebagai suatu kekuatan (spiritual power) jangan diabaikan begitu saja. Agama dapat berperan sebagai pelindung lebih dari pada sebagai penyebab masalah(Hawari, 1998).
Spiritualitas merupakan keyakinan dalam hubungannya dengan yang maha kuasa dan maha mencipta. Menurut Burkhardt (1993) cit Hamid, (2000), spiritualitas meliputi aspek : berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan, menemukan arti dan tujuan hidup, menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri, mempunyai perasaan keterkaitan dengan diri sendiri dan dengan Yang Maha Tinggi.
Dimensi spiritual berupaya untuk mempertahankan keharmonisan atau keselarasan dengan dunia luar, berjuang untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang menghadapai stress emosional, penyakit fisik, atau kematian. Kekuatan yang timbul diluar kekuatan manusia (Kozier,Erb,Blais & Wilkinson, 1995; Murray &Zentner,1993 cit Hamid 2000).
Mickley, Soeken, Blecher (1992) menguraikan spiritualitas sebagai suatu yang multi dimensi yaitu dimensi eksistensial dan dimensi agama. Dimensi eksistensial berfokus pada Tuhan dan arti kehidupan , sedangkan dimensi agama lebih berfokus pada hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Penguasa. Stoll (1989), selanjutnya menguraikan bahwa spiritualitas memiliki konsep dua dimensi diantaranya dimensi vertikal adalah hubungan dengan Tuhan Yang Maha Tinggi yang menuntun kehidupan seseorang, sedangkan dimensi horizontal adalah hubungan seseorang dengan diri sendiri, dengan orang lain dan dengan lingkungan. Terdapat hubungan yang terus menerus antara dua dimensi tersebut.
Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama serta kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan, mencintai, menjalin hubungan penuh rasa percaya dengan Tuhan (Carson, 1998 cit Hawari, 2002). Menurut Taylor, Lillis & Le Mone (1997) dan Craven & Hirnle (1996), faktor penting yang dapat mempengaruhi spiritualitas seseorang adalah pertimbangan tahap perkembangan, keluarga, latar belakang etnik dan budaya, pengalaman hidup sebelumnya, krisis dan perubahan, terpisah dari ikatan spiritual, isu moral terkait dengan terapi, asuhan keperawatan yang kurang sesuai.
2. Keterkaitan antara spiritualitas, kesehatan dan sakit
Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan dan perilaku perawatan diri klien. Beberapa pengaruh dari keyakinan spiritual sebagai berikut yaitu menuntun kebiasaan hidup sehari-hari, sumber dukungan, sumber kekuatan dan penyembuhan, sumber konflik(Hamid,2000).
Perkembangan dalam berbagai aspek kehidupan manusia di era modernisasi dan globalisasi dapat menyebabkan kekecewaan dan keputusasaan pada manusia baik yang sehat maupun sakit. Manusia yang terdiri dari dimensi fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual dimana setiap dimensi harus dipenuhi kebutuhannya. Dari berbagai penelitian menunjukkan dimensi spiritual mempengaruhi penyembuhan pada klien yang sakit (Hawari, 2002). Perawat yang bekerja di garis terdepan harus mampu memenuhi semua kebutuhan manusia termasuk juga kebutuhan spiritual klien. berbagai cara perawat untuk memenuhi kebutuhan klien mulai dari pemenuhan makna dan tujuan spiritual sampai dengan memfasilitasi klien untuk mengekspresikan agama dan keyakinannya. Dalam memenuhi kebutuhan spiritual tersebut perawat memperhatikan tahap perkembangannya, sehingga asuhan yang diberikan dapat terpenuhi sebagaimana mestinya (Hamid, 2000).
Layanan bimbingan spiritual bagi pasien semakin diakui memiliki peran dan manfaat yang efektif bagi penyembuhan. Bahkan di tangan para perawat rumah sakit yang professional, perawatan spiritual, khususnya bimbingan spiritual memberikan kontribusi bagi proses penyembuhan pasien mencapai 20-25 % (Purwanto, 2007). Dari proses komunikasi yang dibangun oleh para perawat rumah sakit yang profesional para pasien bisa memulihkan kondisi psikologisnya. Peningkatan kualitas sumber daya perawat rumah sakit yang profesional menjadi pilihan mutlak rumah sakit, bahkan harus menjadi bagian dari rencana bisnis rumah sakit yang tidak diabaikan. Namun, pada kenyataanya, masih sedikit perawat rumah sakit terutama rumah sakit Islam yang menyadari arti penting pendekatan komunikasi dan psikologis dalam memberikan bimbingan spiritual kepada pasien (Hawari, 2002).
Pendekatan terapi keagamaan khususnya pemenuhan kebutuhan spiritual dalam bidang kedokteran bukan untuk tujuan mengubah keyakinan pasien terhadap agamanya melainkan untuk membangkitkan kekuatan spiritual dalam menghadapi penderitaan penyakit atau gangguan pada kesehatannya. Ini menunjukkan bahwa keyakinan spiritual atau beragama sangat berhubungan dengan bidang klinik atau ”Religions commitment is assosited with clinical benefit”, (Larson,1987 cit Hawari, 1997)).
Agama memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan pribadi Sholeh, 2005). Oleh karena itu sudah pada tempatnya jika dalam menghadapi setiap masalah yang timbul selalu dikaitkan dengan kehidupan religius. Hidup keagamaan memberikan kekuatan jiwa bagi seseorang untuk menghadapi tantangan dan percobaan hidup, memberikan bantuan moril di dalam menghadapi krisis, serta menimbulkan sikap rela menerima kenyataan sebagaimana Tuhan menakdirkan-Nya. Hidup yang dilandasi nilai-nilai agama akan tumbuh kepribadian sehat yang didalamnya terkandung unsur-unsur keagamaan dan keimanan yang cukup teguh. Tetapi sebaliknya orang yang jiwanya goncang dan jauh dari agama maka individu tersebut akan mudah marah, putus asa dan kecewa (Hawari 2002). Pendapat ini diperkuat dengan adanya firman Allah “Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati (QS. Al-Baqarah, 2 : 38). Ayat di atas menguatkan kepercayaan bahwa dengan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh agama akan membawa ketenangan batin. Daradjat (1992) bahwa keyakinan beragama menjadi bagian integral dari kepribadian seseorang. Keyakinan ini akan mengawasi segala tindakan, perkataan, bahkan perasaannya.
Terapi keagamaan yang diberikan berupa bimbingan tentang konsep sehat-sakit dari sudut pandang agama, bimbingan untuk berdzikir dan berdoa. Dengan beragama yang benar, hidup menjadi lebih ikhlas atau pasrah terhadap segala sesuatu yang diberikan oleh Allah, sehingga akan terjadi proses homeostasis (keseimbangan). Semua protektor yang ada didalam tubuh manusia bekerja dengan ketaatan beribadah, lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan pandai bersyukur sehingga tercipta suasana keseimbangan dari neuro transmiter yang ada di dalam otak (Sholeh,2005).
Didalam agama Islam adanya penyakit atau masalah dalam bidang kesehatan itu dianggap sebagai sesuatu cobaan dan ujian keimanan seseorang. Oleh karena itu orang harus bersabar dan tidak boleh berputus asa, berusaha untuk mengobatinya dengan senantiasa berdoa kepada Allah SWT. Bila dikaji secara mendalam, maka sesungguhnya dalam agama (Islam) banyak ayat maupun hadist yang memberikan tuntunan agar manusia sehat seutuhnya, baik dari segi fisik, kejiwaan, social maupun kerohanian. Sebagai contoh misalnya :
a. “Dan bila aku sakit Dia-Lah yang menyembuhkan (Q.S. Asyu’araa,’26 :80)
b. “Katakanlah : Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar (penyembuh) bagi orang-orang yang beriman” (Q.S. Fushshilat, 41:44).
c. “Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat itu tepat mengenai sasarannya, maka dengan izin Allah penyakit itu akan sembuh” (H.R. Muslim dan Ahmad).
d. “Berobatlah kalian, maka sesungguhnya Allah SWT tidak mendatangkan penyakit kecuali mendatangkan obatnya kecuali penyakit tua (H.R.At.Tirmidzi).
e. “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.(Q.S.AlBaqarah, 2 :153)
f. “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S.Al Baqarah,2 :155)
g. Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.(Q.S.Azzumar,39 : 10)
h. Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,(Q.S.Al Insyiraah :5)
i. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. ,(Q.S.Al Insyiraah :6)
j. Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,(Q.S.Al Insyiraah :7)
k. Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. ,(Q.S.Al Insyiraah :8)
3. Proses keperawatan dalam perawatan spiritual
Penerapan proses keperawatan dari perspektif kebutuhan spiritual klien tidak sederhana. Hal ini sangat jauh dari sekedar mengkaji praktik dan ritual keagamaan klien. Perlu memahami spiritualitas klien dan kemudian secara tepat mengidentifikasi tingkat dukungan dan sumber yang diperlukan (Potter and Perry,1997). Dengan proses keperawatan sebagai suatu metode ilmiah untuk menyelesaikan masalah keperawatan dalam pemberian asuhan keperawatan spiritual yaitu :
a) Pengkajian
Pengkajian dapat menunjukan kesempatan yang dimiliki perawat dalam mendukung atau menguatkan spiritualitas klien. Pengkajian tersebut dapat menjadi terapeutik karena pengkajian menunjukkan tingkat perawatan dan dukungan yang diberikan. Perawat yang memahami pendekatan konseptual menyeluruh tentang pengkajian siritual akan menjadi yang paling berhasil (Farran , 1989 cit Potter and perry, 1997). Pengkajian data subyektif meliputi konsep tentang Tuhan atau ketuhanan, sumber harapan dan kekuatan, praktik agama dan ritual, hubungan antara keyakinan dan kondisi kesehatan. Sedangkan pangkajian data obyektif dilakukan melalui pengkajian klinik yang meliputi pengkajian afek dan sikap, perilaku, verbalisasi, hubungan interpersonal dan lingkungan. Pengkajian obyektif terutama dilakukan melalui observasi. (Hamid, 2000).
b) Diagnosa keperawatan
Ketika meninjau pengkajian spiritual dan mengintegrasikan informasi kedalam diagnosa keperawatan yang sesuai, perawat harus mempertimbangkan status kesehatan klien terakhir dari perspektif holistik, dengan spiritualitas sebagai prinsip kesatuan (Farran, 1989). Setiap diagnosa harus mempunyai faktor yang berhubungan dengan akurat sehingga intervensi yang dihasilkan dapat bermakna dan berlangsung (Potter and Perry, 1997).
c) Perencanaan
Dengan menetapkan rencana perawatan, tujuan ditetapkan secara individual, dengan mempertimbangkan riwayat klien, area beresiko, dan tanda-tanda disfungsi serta data obyektif yang relevan (Hamid, 2000). Menurut (Munley, 1983 cit Potter and Perry, 1997) terdapat tiga tujuan untuk pemberian perawatan spiritual yaitu klien merasakan perasaan percaya pada pemberi perawatan, klien mampu terkait dengan anggota sistem pendukung, pencarian pribadi klien tentang makna hidup meningkat.
d) Implementasi
Pada tahap implementasi, perawat menerapkan rencana intervensi dengan melakukan prinsip-prinsip kegiatan asuhan keperawatan sebagai berikut (Hamid, 2000) : periksa keyakinan spiritual pribadi perawat, fokuskan perhatian pada persepsi klien terhadap kebutuhan spiritualnya, jangan berasumsi klien tidak mempunyai kebutuhan sipiritual, mengetahui pesan non verbal tentang kebutuhan spiritual klien, berrespon secara singkat, spesifik, aktual, mendengarkan secara aktif dan menunjukkan empati yang berarti menghayati masalah klien, menerapkan teknik komunikasi terapeutik dengan tehnik mendukung, menerima, bertanya, memberi infomasi, refleksi, menggali perasaan dan kekuatan yang dimiliki klien, meningkatkan kesadaran dengan kepekaan pada ucapan atau pesan verbal klien, bersikap empati yang berarti memahami dan mengalami perasaan klien, memahami masalah klien tanpa menghukum walaupun tidak berarti menyetujui klien, menentukan arti dari situasi klien, bagaimana klien berespon terhadap penyakit, apakah klien menganggap penyakit yang dideritanya merupakan hukuman, cobaan, atau anugrah dari Tuhan, membantu memfasilitasi klien agar dapat memenuhi kewajiban agamanya, memberitahu pelayanan spiritual yang ada di rumah sakit.
Menurut Amenta dan Bohnet (1986) cit Govier (2000) ada empat alat/cara untuk membantu perawat dalam menerapkan perawatan spiritual yaitu menyimak dengan perilaku wajar, selalu ada, menyetujui apa yang dikatakan klien, menggunakan pembukaan diri
e) Evaluasi
Perawat mengevaluasi apakah intervensi keperawatan membantu menguatkan spiritualitas klien. Perawat membandingkan tingkat spiritualitas klien dengan perilaku dan kebutuhan yang tercata dalam pengkajian keperawatan. Klien harus mengalami emosi sesuai dengan situasi, mengembangkan citra diri yang kuat dan realistis, dan mengalami hubungan interpersonal yang terbuka dan hangat. Keluarga dan teman, dengan siapa klien telah membentuk persahabatan dapat dijadikan sumber informasi evaluatif. Klien harus juga mempertahankan misi dalam hidup dan sebagian individu percaya dan yakin dengan Tuhan Yang Maha Kuasa atau Maha Tinggi. Bagi klien dengan penyakit terminal serius, evaluasi difokuskan pada keberhasilan membantu klien meraih kembali harapan hidup (Potter anfd Perry, 1997).
Menurut Hamid (2000) tujuan asuhan keperawatan spiritual tercapai apabila secara umum klien mampu beristirahat dengan tenang, menyatakan penerimaan keputusan moral atau etika, mengekspresikan rasa damai berhubungan dengan Tuhan, menunjukkan hubungan yang hangat dan terbuka dengan pemuka agama, menunjukkan afek yang positif, tanpa perasaan marah, rasa bersalah dan ansietas, menunjukkan perilaku lebih positif, mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya.



Tidak cemas
Pasien pre operasi
B. kerangka konsep
→→→→→
Kemasan :
- panik
- berat
- sedang
- ringan
Therapy psiko spiritual:
-pengobatan menurut Islam
-bimbingan berdoa dan berzikir kepada Allah
-konsep sehat sakit dalam Islam




Dipengaruhi :
- usia
- tingkat pendidikan
- faktor genetik
- tingkat pengetahuan




Gambar 2 kerangka konsep
Keterangan :
------------ : lingkup yang diteliti

C. Hipotesis
”Adanya pengaruh therapi psiko spiritual terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta”.



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. DESAIN PENELITIAN
Penelitian tentang pengaruh therapi psiko spiritual terhadap tingkat kecemasan ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan pendekatan rancangan penelitian perbandingan kelompok statis (Static Group Comparison). Dalam rancangan penelitian ini dibuat dalam dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok ekaperimen menerima perlakuan (X) yang akan diikuti oleh pengukuran kedua atau observasi melalui postes. Hasil observasi ini kemudian dikontrol atau dibandingkan dengan hasil observasi pada kelompok kontrol yang tidak menerima program atau intervensi. Rancangan ini dapat digambarkan sebagai berikut :
X 02
02
perlakuan post tes
Kelompok eksperimen
Kelompok kontrol
Gambar 3. kerangka rancangan penelitian
B. VARIABEL PENELITIAN
Dalam penelitian ini terdapat dua variable yaitu
1. Variable bebas : therapy psiko spiritual pra operasi
2. Variable terikat : kecemasan pasien operasi
Hubungan antar variabel
Variabel bebas
Therapi psiko spiritual Pra operasi
Variabel terikat
Kecemasan pre operasi



Variabel pengganggu
- usia
- tingkat pendidikan
- pengalaman operasi
- jenis kelamin
- dukungan sosial



Gambar 4. Hubungan antar variabel
C. DEFINISI OPERASIONAL
1. Therapi psiko spiritual adalah therapy yang digunakan dalam rangka pemberian pencerahan dan pengarahan dengan metode relaksasi yang meliputi bimbingan berdoa dan berzikir kepada Allah SWT, konsep sehat dan sakit dalam Islam, diajarkan oleh perawat 2 kali masing-masing selama kurang lebih 20 menit dan dilakukan 1 hari sebelum pasien menjalankan operasi, skala rasio.
2. Kecemasan pasien operasi adalah perasaan takut atau tidak tenang yang dialami oleh pasien sebelum menjalani operasi berdasarkan jumlah skor yang diperoleh setelah menjawab yang tercantum dalam kuesioner HRS-A (Hamilton Rating Scale for Anxiety) Pengukuran ini dilakukan beberapa jam sebelum pasien dilakukan operasi dan skalanya adalah rasio
D. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
1. Populasi penelitian
Populasi adalah keseluruhan dari obyek penelitian atau obyek yang akan dilakukan penelitian (Atmojo, 1993). Sedangkan populasi dari penelitian ini adalah seluruh pasien pre operasi yang rawat inap di ruang kelas 2 (Raudhoh dan Multazam) dan 3 (Arofah dan Marwa) RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dalam bulan November 2008 sampai bulan Desember 2008 .
2. Sampel penelitian
Sampel adalah sebagian dari keseluruhan obyek yang akan diteliti dan dianggap mewakili dari populasi (Atmojo,1993). Menurut Gay bahwa ukuran minimal sampel yang dapat diterima berdasarkan metode penelitian perbandingan kelompok statis minimal 30 subyek (Hasan, 2002). Sampel dari penelitian ini diambil 30 kasus dari seluruh populasi pasien pre operasi pada periode bulan November 2008 sampai bulan Desember tahun 2008 di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel ini menggunakan sistem purposive sampling. Dimana setiap pasien pre operasi yang ada mempunyai kesempatan untuk terpilih sebagai sampel dari penelitian ini sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi.
Adapun kriteria inklusinya adalah :
a) Pendidikan minimal SD
b) Umur pasien antara 17- 60 tahun.
c) Menjadi pasien pre operasi di ruang kelas 2 dan kelas 3 RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
d) Bersedia menjadi responden dan bisa mebaca dan menulis
e) Beragama Islam
Sedangkan kriteria eksklusinya :
a) pasien pre operasi cito atau segera
b) pasien pre operasi dengan komplikasi (diabetes, hipertensi, IHD/HHD)
E. ALAT DAN METODE PENGUMPULAN DATA
Adapun therapi psiko spiritual yang dilakukan oleh peneliti berupa therapi psikospiitual dengan relaksasi dalam rangka pencerahan dan pengarahan yang meliputi bimbingan berdoa dan berzikir kepada Allah SWT, konsep sehat dan sakit menurut Islam, diajarkan oleh perawat 2 kali masing-masing selama kurang lebih 20 menit dan dilakukan sebelum pasien menjalankan operasi. Alat atau intrumen yang digunakan untuk terapi psiko spiritual berupa leaflet yang berisi terapi psiko spiritual sebanyak 1 buah dan sudah dilakukan uji validitas oleh 3 orang ahli dalam bidangnya. Kriteria ahli disini adalah perawat berpendidikan sarjana, sudah bekerja minimal 15 tahun dan menguasai teori tentang pemenuhan kebutuhan spiritual khususnya therapi psiko spiritual. Pelaksana pemberian therapi psiko spiritual dilakukan oleh peneliti sendiri dan dilakukan secara individu atau setiap pasien sesuai dengan protokol yang telah dibuat peneliti.
Pada penelitian ini untuk kecemasan pada pasien pre operasi sesudah pemberian therapi psiko spiritual menggunakan angket atau kuesioner HRS-A yang terdiri dari 14 pertanyaan tertutup. Kuesioner HSR-A ini merupakan test kecemasan yang sudah standart dan dapat diterima secara internasional sehingga tidak dilakukan uji validitas dan reliabilitas lagi. Keuntungan dari penggunaan kuesioner HSR-A adalah waktu pemeriksaan relatif cepat dan dapat dilakukan responden sendiri, tetapi juga mempunyai kekurangan yaitu respon dari responden sering melebih-lebihkan gejala, disamping itu tidak semua responden cukup intelegensinya untuk dapat memahami isi dari pertanyaan yang ada.
Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat di gunakan oleh penelitian untuk mengumpulkan data. Intrumen pengumpulan data merupakan alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatan pengumpulan data, agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan mudah (Arikunto,1998).
Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi dan juga dengan menggunakan angket. Angket atau kuesioner adalah sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahuinya (Arikunto, 1998).
Langkah – langkah yang digunakan dalam penelitian atau jalannya dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Tahap persiapan
Pada langkah ini dilakukan pemilihan lahan penelitian dan pengurusan ijin yaitu penelitian di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2008 kemudian mengadakan studi pendahuluan tentang penelitian yang peneliti lakukan dalam menentukan masalah, studi kepustakaan, , menyusun proposal, konsultasi dengan pembimbing, pembuatan intrumen, uji validitas dari instrumen dan dilakukan pemilihan lokasi dan sampel penelitian yaitu pasien pre operasi dikelas 2 dan kelas 3 RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
2. Tahap pelaksanaan penelitian
Pada tahap ini dimulai dengan menentukan sampel dari penelitian yaitu pasien pre operasi yang berjumlah 30 orang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi, yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok kontrol sebanyak 15 orang, kelompok perlakuan sebanyak 15 orang. Setelah itu dilanjutkan pemberian therapi psiko spiritual kepada kelompok eksperimen, sebanyak 2 kali masing-masing selama kurang lebih 20 menit dan kemudian diberikan materi berupa leaflet tentang terapi psiko spiritual sebanyak 1 materi leaflet.
Pemberian therapi psiko spiritual dibagi dalam 2 tahap yaitu pada tahap pertama dimulai dengan pembukaan , memperkenalkan diri, menyampaikan tujuan therapi psiko spiritual, mengeksplorasi perasaan pasien, memberikan therapi psiko spiritual tentang makna sakit menurut Islam dengan metode relaksasi dan melakukan kontrak waktu untuk pelaksanaan therapi psiko spiritual selanjutnya, hal ini dilakukan selama 20 menit. Kemudian tahap kedua pemberian therapi psiko spiritual tentang tuntunan doa dan berdzikir menurut Islam dengan metode relaksasi, diakhiri dengan diskusi dan evaluasi, juga dilakukan selama 20 menit. Pelaksanaan therapi psiko spiritual ini dilakukan oleh peneliti sendiri dan dilakukan secara individu atau tiap pasien.
Kegiatan berikutnya : melakukan pengukuran kecemasan setelah pemberian therapi psiko spiritual pada kelompok eksperimen sebelum pelaksanaan operasi, dengan menggunakan kuesioner HRS-A kepada sebanyak 15 orang responden, dan juga kelompok kontrol yang tidak mendapatkan therapi psiko spiritual, sebanyak 15 responden, masing-masing selama kurang lebih 20 menit. Hal ini dilakukan 2-3 jam sebelum pelaksanan operasi. Setelah selesai dilanjutkan dengan pengumpulan data dan pengecekan dari kelengkapan pengisian kuesioner oleh peneliti.
F. METODE PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA
Setelah data terkumpul langkah selanjutnya adalah :
1. Editing
Editing merupakan kegiatan meneliti kembali data yang terkumpul meliputi kesuaian jawaban dan kelengkapan dari pengisian kuesioner.
2. Coding
Coding merupakan pemebrian kode atau tanda untuk mendukung pengolahan data kemudian melakukan langkah selanjutnya.
3. Skoring
Dalam skoring ini meberikan nilai berupa angka pada jawaban pertanyaan tiap kuesioner. Setiap jawaban kuesioner timgkat kecemasan yang sesuai diberikan nilai 1 hingga skor berkisar 0-50, makin tinggi skor makin tinggi kecemasan.
4. Tabulating
Dalam tabulating ini dilakukan penyusunan dan penghitungan data dari hasil dari coding untuk kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan dilakukan evaluasi..
Teknik analisa data
Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan uji t. Uji t ini digunakan untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel yang berkorelasi , dan sampel tersebut sudah disamakan (dimatched). Adapun rumus uji t menurut Sugiyono (2006) adalah sebagai berikut :
T =

Keterangan :
X1 = mean rata-rata kelompok I
X2 = mean rata-rata kelompok II
S1 = standart deviasi I
S2 = standart deviasi II
n = jumlah responden
Menurut Sugiyono(2006), kriteria nilai t test yang didapatkan untuk bisa menyimpulkan hipotesis penelitian yaitu sebagai berikut :
1. Jika nilai t test hitung lebih kecil dari nilai t test tabel, maka H0 diterima dan Hα ditolak.
2. Jika nilai t test hitung lebih besar dari nilai t test tabel, maka H0 diterima dan Hα ditolak